Teori Spiral Keheningan dalam Jurnalisme Radio di Era Digital.
Teknologi saat ini sudah semakin berkembang dan masuk kedalam setiap aspek kehidupan. Informasi dan hiburan bisa diakses dengan mudah oleh semua orang. Dalam Jurnal yang dituluis oleh Dian tri Hapsari yang berjudul "Jurnalisme Radio Di Era Digital: Transformasi Dan Tantangan, menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2015, sejumlah media cetak di Indonesia memutuskan tutup dan beralih ke media digital. Sebagian besar penyebab tutupnya sejumlah media cetak hampir serupa, yakni pendapatan menurun di tengah meningkatnya pertumbuhan media daring.
Dengan adanya perkembangan teknologi ini, Jurnalisme dan Radio juga berkembang mengikuti zaman. Radio juga dikategorikan sebagai media massa dan salah satu media massa paling tua yang dapat bertranformasi sebagai media baru. Radio saat ini sangat mudah diakses dan dibawa saja kemanapun oleh orang-orang. Radio berada dan menyatu pada telpon genggam yang tentu saja saat ini di miliki oleh semua orang, radio juga menemani perjalanan orang-orang ketika didalam mobil.
Radio internet di indonesia, dalam Jurnal yang ditulis DT Hapsari, menyatakan bahwa layanan radio Internet pertama kali diluncurkan pada 1993 oleh Carl Malamud dengan
program “Internet Talk Radio.” Program ini
membahas perkembangan teknologi komputer
dengan mewawancarai para ahli komputer setiap minggunya. Banyak stasiun
radio menggunakan Internet untuk memperluas
jangkauan pemancarnya secara geografis. Selain
itu, inovasi menggunakan interaktivitas Internet
juga meningkatkan komunikasi sosial interaktif
radio (Girard, 2003, 6).
Radio juga menawarkan kemungkinan ini, yang
disebut sebagai jurnalisme interaktif. Bentuk
jurnalisme ini memberi peluang bagi pendengar
untuk terlibat dalam proses siaran informasi. Pendengar bukan lagi sekadar penikmat, melainkan
aktif memberikan informasi layaknya reporter.
Pada era digitalisasi dan internet, pendengar radio
tidak hanya berpartisipasi melalui sambungan
telepon, tetapi juga melalui akun media sosial,
seperti twitter atau aplikasi pesan singkat Whatsapp. Pertumbuhan internet dan dunia digital ternyata mampu menunjang pertumbuhan radio.
Jurnalisme Radio
Dilihat dari sejarah Indonesia, radi memiliki peran cukup besar sebagai media massa yang menyampaikan informasi kepada masyarakat Indonesia, ketika proklamasi kemerdekaan. Berita tersebut sampai pada seluruh masyrakat Indonesia berkat hadirnya radio. Radio sebeul kemerdekaan Indonesia bersisikan tentang siaran informasi perjuangan dan proaganda. Sedangkan pada masa orde baru radio memuat siaran hiburan. Pra dan pasca-reformasi, talk show radio
menjamur di mana-mana dan digemari masyarakat. Pada dasarnya, karya jurnalistik pada media cetak juga dapat diproduksi oleh radio dengan media suara dan memiliki keunikan tersendiri.
Di samping news, radio dengan ciri jurnalisme radio yang kental juga menyajikan
siaran-siaran berbasis talk. Bentuknya bisa dalam
program wawancara yang melibatkan dua orang
atau lebih dalam membahas isu atau peristiwa
tertentu. Talk show merupakan wujud forum
diskusi interaktif yang sangat istimewa karena
melibatkan presenter, narasumber, dan khalayak
pendengar.
Teori Spiral Keheningan dan Jurnalisme Radio
Contoh kasus dari teori spiral keheningan ini adalah contoh kasus teori spiral keheningan pada Radio Elshinta, yang dimuat pada jurnal Jurnalisme Radio Di Era Digital: Transofrmasi Dan Tantangan. Sebelumnya, apa itu Radio Elshinta?
Radio Elshinta adalah sebuah stasiun radio nasional di Indonesia, radio Elshinta berpusat di Jakarta. Radio ini memuat format acara mengenai berita dan talk show, dan menyiarkan berita dan informasi yang aktual. Radio ini berdiri sejak 14 Februari 1968. Dan memiliki area siaran dari Jabodetabek, Karawang, Serang dan Purwakarta.
Teori Spiral Keheningan Pada Radio Elshinta
Berbicara mengenai peran media dalam opini
publik tentu tidak lepas dari teori komunikasi
massa spiral keheningan (spiral of silence).
Dalam konteks radio sebagai media komunikasi
yang aksesnya tetap meluas, konsepsi ini sangat
relevan dan penting. Ilmuwan politik asal Jerman, Elisabeth Noelle-Neumann, menunjukkan
bagaimana komunikasi interpersonal dan media
berjalan bersama dalam perkembangan opini
publik (Littlejohn & Foss, 2008 , 429).
Opini publik
yang berkembang di media massa merupakan
persepsi selektif mengandaikan bahwa orang
yang beropini di media sesuai dengan sikap yang
sudah terbentuk sebelumnya. Apabila opini media
tidak sesuai dengan opini publik atau tidak diperdebatkan atau didiskusikan, publik cenderung
mengabaikannya. Dengan kata lain, sebuah isu
yang tidak disentuh publik lama-lama akan hilang
dan gagal memengaruhi keputusan politik. Hal
ini merupakan konsekuensi jangka panjang dari
persepsi publik terhadap media dalam proses
komunikasi massa (Astuti, 2017, 18).
Radio Elshinta menjadi fenomena radio
interaktif di tanah air karena menyuguhkan ruang
dialog opini publik yang disiarkan secara langsung selama 24 jam melalui teresterial 90,0 Mhz
atau streaming di situs http://www.radioonline.
co.id/elshinta/. Keterlibatan pendengar muncul
sejak format radio ini berubah. Sebelumnya,
stasiun radio yang berdiri pada 1968 ini mengusung musik jazz. Momen kerusuhan Mei 1998
menjadi titik tolak radio ini mengarah ke radio
berita, hingga resmi memosisikan diri sebagai
satu-satunya radio yang khusus menyajikan berita
dan informasi selama 24 jam. Elshinta memberikan kesempatan kepada seluruh pendengarnya untuk
menjadi reporter.
Elshinta
secara sadar mengemas program dengan isu-isu
kepentingan publik sehingga dapat melibatkan
masyarakat luas dengan mengesampingkan isu-isu pluralitas yang sensitif. Elshinta cenderung
mengafirmasi “pandangan mayoritas” agar mereka tidak kehilangan khalayak yang diasumsikan
sebagai mayoritas.
Penutup
Radio merupakan media massa yang dapat berkembang mengikuti zaman dan bertransfomrasi menjadi media baru, begitu pula dunia jurnalistik yang berkembang mengikuti teknologi. Berita merupakan nyawa dari Jurnalisme Radio, jurnalisme radio selain memuat berita juga mempunya format acara seperti talk. Elshinta merupakan radio nasional yang mempunya format acara berita dan talk, radio Elshinta cenderung mengafirmasi "pandangan mayoritas" agar mereka tidak kehilangan khalayak yang diasumsikan sebagai mayoritas.
Sumber
Dian tri Hapsari, 2019.
Jurnal : "Jurnalisme Radio Di Era Digital: Transformasi Dan Tantangan" pada http://jmi.ipsk.lipi.go.id/index.php/jmiipsk/article/view/760 diakses pada 27 Mei 2019


Comments
Post a Comment